Laman

Kamis, 19 Agustus 2010

Virtual Host, HTTPS, Web Server

Virtual Host dalam APACHE2 di Sistem Operasi UBUNTU

Virtual Host merupakan layanan dari Apache, seolah-olah server Apache kita berada pada banyak mesin. Apache mendukung dua tipe virtual host; berdasarkan IP address dan berdasarkan hostname. Perbedaan dari kedua tipe ini adalah ; tipe berdasarkan IP address, kita harus menggunakan 1 ip address untuk 1 virtual host yang akan kita gunakan.dengan kata lain, 1 domain 1 ip address. Sedangkan tipe berdasarkan hostname, kita dapat menggunakan 1 ip address untuk banyak virtual host, dengan kata lain, 1 ip address bisa digunakan untuk banyak domain. ( domain yang ingin di gunakan, terlebih dahulu di pointing ke ip address server anda ).
Berikut adalah langkah-langkah membuat Virtual Host :
1. buat sebuah file yang akan menangani konfigurasi Virtual Host kita pada direktori /etc/apache2/sites-available
cd /etc/apache2/sites-available
touch cyberbox
2. edit file tersebut dan tambahkan konfigurasi Virtual host yang kita kehendaki
nano cyberbox
berikut adalah contoh konfigurasi Virtual Host untuk domain cyberbox.on.web.id

Penjelasan :
NameVirtualHost 212.241.214.21 = nama virtual host kita ( masukkan ip anda )
= domain dan listening port yang ingin kita gunakan
DocumentRoot /var/www/html = document ROOT tempat dimana file-file web kita di akses.
save dan keluar dari text editor.
3. Buat file symbolic di direktori /etc/apache2/sites-enabled yang mengarah ke file /etc/apache2/sites-available/cyberbox
sudo a2ensite cyberbox /etc/apache2/sites-available/cyberbox
4. Tambahkah domain yang telah kita set menjadi virtual host di file /etc/hosts
echo “ipaddress domain.com domain” >> /etc/hosts
contoh : echo “212.241.214.21 cyberbox.on.web.id cyberbox” >> /etc/hosts
5. reload server Apache
sudo /etc/init.d/apache2 reload
6. Jika tidak terjadi error, coba akses virtual host yang sudah kita masukkan dengan browses.
http://cyberbox.on.web.id/

HTTPS
https adalah versi aman dari HTTP, Protokol Komunikasi dari World Wide Web. Ditemukan oleh Netscape Communications Corporation untuk menyediakan autentikasi dan komunikasi tersandi dan penggunaan dalam komersi elektris.
Selain menggunakan komunikasi plain text, HTTPS menyandikan data sesi menggunakan protokol SSL (Secure Socket Layer) atau protokol TLS (Transport Layer Security). Kedua protokol tersebut memberikan perlindungan yang memadai dari serangan eavesdroppers, dan man in the middle attacks. Pada umumnya port HTTPS adalah 443.
Konfigurasi HTTPS

1. Aktifkan modul ssl dengan menggunakan perintah:
$ sudo a2enmod ssl
2. Buatlah sertifikat, sertifikat ini digunakan untuk koneksi https/ssl (enkripsi)
$ sudo apache2-ssl-certificate
creating selfsigned certificate
replace it with one signed by a certification authority (CA)
enter your ServerName at the Common Name prompt
If you want your certificate to expire after x days call this
programm
with -days x
Generating a 1024 bit RSA private key
..................................++++++
..........................++++++
writing new private key to '/etc/apache2/ssl/apache.pem'
-----
You are about to be asked to enter information that will be
incorporated
into your certificate request.
What you are about to enter is what is called a Distinguished
Name or a DN.
There are quite a few fields but you can leave some blank
For some fields there will be a default value,
If you enter '.', the field will be left blank.
-----
Country Name (2 letter code) [GB]:ID
State or Province Name (full name) [Some-State]:Jawa Timur
Locality Name (eg, city) []:Surabaya
Organization Name (eg, company; recommended) []:Sekolah
Organizational Unit Name (eg, section) []:
server name (eg. ssl.domain.tld; required!!!)
[]:secure.sekolah.net
Email Address []:vie@sekolah.net
3. Setelah itu buat file /etc/apache2/sites-available/https, dibawah baris:
$ sudo vi /etc/apache2/sites-available/https
Dengan isi file seperti berikut:
NameVirtualHost 192.168.0.1:443

SSLEngine ON
SSLOptions +FakeBasicAuth +ExportCertData
+CompatEnvVars +StrictRequire
SSLCertificateFile /etc/apache2/ssl/apache.pem
ServerName secure.skull.net
ServerAdmin webmaster@skull.net
DocumentRoot /var/www/skullnet

4. Aktifkan site https, dengan perintah
$ sudo a2ensite https
5. Setelah itu edit file /etc/apache2/ports.conf, lalu tambakan baris Listen 443
pada file tersebut.
6. Restart apache
$ sudo /etc/init.d/apache2 restart
7. Test lah hasil konfigurasi pada browser klien dengan mengetikan url
https://www.sekolah.net/


Web Server
Web merupakan salah satu layanan internet yang popular karena ke populerannya
maka layanan ini menjadi media yang dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan lembaga,
institusi atau perusahaan. Fasilitas ini juga memungkinkan kita mengakses informasi dan data
efektif dan efisien.
Web server menggunakan protocol HTTP yang menggunakan arsitektur client-server,
yaitu ada sebuah web server yang dapat memberikan layanan HTTP yang di minta oleh aplikasi client.


Apache, MySQL, PHP
Apache adalah salah satu aplikasi web server yang terbaik karena kehandalannya,
kecepatannya, dan selain itu apache juga bersifat open source. Apache secara default terdapat
di distro – distro linux.
MySQL merupakan salah satu software database yang sangat terkenal di dunia.
Terkenal karena kecepatan, kemudahan penggunaan, konektifitas dan sekuritas yang baik,
serta harga yang masih cenderung gratis untuk pengguna tertentu.
PHP adalah bahasa pemograman yang bersifat server side dan menyatu dengan HTML.
Server side adalah sintaks dan perintah-perintah yang kita berikan akan sepenuhnya dijalankan
di server sedangkan yang diterima klien hanya HTML biasa.

Konfigurasi Database Server
Berikut adalah langkah-langkah mengkonfigurasi Database Server:
1. Setelah MySQL terinstall dengan baik, ubah password user root yang terdapat di
MySQL, dengan menggunakan perintah berikut:
$ sudo su
# mysqladmin -u root -p password passwordbaru
Catatan: ubah passwordbaru dengan password yang diinginkan. Setelah itu restart
MySQL.
# /etc/init.d/mysql restart
2. Selanjutnya kita tambahkan user lain kedalam database MySQL, dengan
mengetikan perintah berikut:
# mysql -u root –p
Enter password: passwordbaru
mysql> use mysql;
mysql> INSERT INTO user (host, user, password, select_priv, insert_priv,
update_priv, delete_priv, create_priv, drop_priv) VALUES
('localhost','pick',PASSWORD('123'), 'Y', 'Y', 'Y', 'Y', 'Y', 'Y');
mysql> flush privileges;
mysql> exit;
3. Agar php dapat bekerja dengan mysql, kita harus mengedit file
/etc/php5/apache2/php.ini. Hilangkan tanda komentar pada ;extension=mysql.so
Sebelum:
;extension=mysql.so
Sesudah:
extension=mysql.so
Konfigurasi Apache Web Server
Berikut adalah langkah-langkah mengkonfigurasi Web Server:
1. Buat file /etc/apache2/sites-available/skullnet
$ sudo vi /etc/apache2/sites-available/skullnet
Dengan isi file seperti berikut :
NameVirtualHost 192.168.0.1:80

ServerAdmin webmaster@skull.net
ServerName www.skull.net
DocumentRoot /var/www/skullnet
ScriptAlias /cgi-bin/ /var/www/cgi-bin/

AllowOverride None
Options +ExecCGI -MultiViews
+SymLinksIfOwnerMatch
Order allow,deny
Allow from all

ErrorLog /var/log/apache2/error.log
# Possible values include: debug, info, notice, warn,
error, crit,
# alert, emerg.
LogLevel warn
CustomLog /var/log/apache2/access.log combined
ServerSignature On

Edit option-option berikut, sehingga sesuai dengan keadaan server anda :
 ServerAdmin
Option ini mendefinisikan admin webmaster.
 DocumentRoot
Document root adalah di rektori tempat dokumen web anda.
Contoh : DocumentRoot /var/www/skullnet
 ServerName
Option ini berfungsi mendefinisikan nama server kita. Secara default option ini
tidak ada, buat option ini secara manual. Contoh: ServerName www.skull.net
 ScriptAlias dan Directory “/var/www/cgi-bin/"
Option ini berfungsi mendefinisikan direktori cgi-bin.
2. Setelah membuat dan menyimpan file tersebut, buat direktori /var/www/skullnet
untuk menyimpan file-file web kita dan buat direktori /var/www/cgi-bin.
$ sudo mkdir -p /var/www/skullnet
$ sudo mkdir -p /var/www/cgi-bin
3. Langkah selanjutnya yaitu membuat simbolik links kedalam direktori
/etc/apache2/sites-enabled, gunakan perintah berikut:
$ sudo a2ensite skullnet
4. Selanjutnya kita buang simbolik link konfigurasi default, karena kita sudah
menggunakan konfigurasi yang baru yaitu sekolahnet
$ sudo a2dissite default
5. Restart apache
$ sudo /etc/init.d/apache2 restart
6. Sekarang waktunya uji coba. Buat file /var/www/skullnet/info.php dengan isi file
sebagai berikut:
$ sudo vi /var/www/skullnet/info.php
7. Lakukan browsing dari klien menuju alamat http://www.sekolah.net/info.php







Kamis, 05 Agustus 2010

Admin Server ( DNS Security )




DNS



DEFINISI DNS


DNS merupakan sistem database yang terdistribusi yang digunakan untuk pencarian

nama komputer di jaringan yang menggunakan TCP/IP. DNS mempunyai kelebihan

ukuran database yang tidak terbatas dan juga mempunyai performa yang baik. DNS

merupakan aplikasi pelayanan di internet untuk menterjemahkan domain name ke

alamat IP dan juga sebaliknya. DNS dapat dianalogikan sebagai pemakaian buku

telefon dimana orang yang ingin kita hubungi, berdasarkan nama untuk

menghubunginya dan menekan nomor telefon berdasarkan nomor dari buku telefon

tersebut. Hal ini terjadi karena komputer bekerja berdasarkan angka, dan manusia

lebih cenderung bekerja berdasarkan nama. Misalkan domain name yahoo.com

mempunyai alamat IP 202.68.0.134, tentu mengingat nama komputer lebih mudah

dibandingkan dengan mengingat alamat IP.

STRUKTUR DNS

Domain Name Space merupakan hirarki pengelompokan domain berdasarkan nama.

Domain ditentukan berdasarkan kemampuan yang ada di struktur hirarki yang disebut

level yang terdiri dari :

• Root-Level Domains : merupakan level paling atas di hirarki yang di

ekspresikan berdasarkan periode dan dilambangkan oleh “.”.

• Top-Level Domains : berisi second-level domains dan hosts yaitu :

- com : organisasi komersial, seperti IBM (ibm.com).

- edu : institusi pendidikan, seperti U.C. Berkeley

(berkeley.edu).

- org : organisasi non profit, Electronic Frontier Foundation

(eff.org).

- net : organisasi networking, NSFNET (nsf.net).

- gov : organisasi pemerintah non militer, NASA (nasa.gov).

- mil : organisasi pemerintah militer, ARMY (army.mil).

- xx : kode negara (id:Indonesia,au:Australia)

• Second-Level Domains : berisi host dan domain lain yang disebut

subdomain.

• Host Name : domain name yang digunakan dengan host

name akan menciptakan fully qualified domain name (FQDN) untuk setiap

kompueter. Contohnya, jika terdapat fileserver1.wijaya.com, fileserver1

adalah host name dan wijaya.com adalah domain name.

SERVER NAMA dan ZONA

Program yang menyimpan informasi tentang domain name space disebut server nama

(name server). Server nama biasanya mempunyai informasi yang lengkap mengenai

bagian-bagian dari domain name space yang disebut zona (zone), yang biasanya

diambil dari file atau dari Server nama lainnya. Server nama mempunyai otoritas

(authority) untuk zona tersebut, dan Server nama juga dapat mempunyai otoritas

untuk banyak zona.

Perbedaan antara sebuah zona dan sebuah domain adalah penting. Semua top-level

domain, dan banyak second-level domain dibagi menjadi unit-unit yang lebih kecil.

Unit-unit tersebut disebut zona.

DNS SECURITY

There are many facets to DNS security, ranging from relatively simple to implement to brutally complex. This chapter divides security into four topics:

• Administrative security: This part of the chapter covers the use of file permissions, server configuration, BIND configuration, and sandboxes (or chroot jails). All of these techniques are relatively simple to implement, and can (and should) be applied to stand-alone DNS servers or to servers that run DNS as one of a number of services. Administrative security is a base-line topic. All the fancy cryptographic techniques in the world are useless if the base system is unstable or has world read-and-write privileges on all the interesting files.

• Zone transfers: Unless a multimaster configuration system is being used, zone transfers are essential to normal operation. Limiting and controlling both the source and destinations of zone transfer operations using physical security, BIND parameters, or external firewalls is always prudent. Secure authentication of the source and destinations of zone transfer operations may or may not be worth the effort.

• Dynamic updates: Dynamic updates expose a master zone file to possible corruption, destruction, or poisoning. Not taking sensible precautions to limit access through either good system design, BIND parameters, firewalls, or authentication probably constitutes a misplaced reliance on the essential goodness of mankind.

• Zone integrity: If it is essential that the zone data used by either another DNS or an end host be correct (that is, query responses have not been tampered with and the returned data could only have come from the zone owner), then DNSSEC is required. DNSSEC has been the subject of considerable experimentation and subsequent change over the past three or four years.

DNS Normal Data Flow









Security Classification

The security classification is a means to allow selection of the appropriate remedies and strategies for avoiding the implied risk.

• Local threats (1): Local threats are usually the simplest to prevent, and are typically implemented simply by maintaining sound system-administration policies. All zone files and other DNS configuration files should have appropriate read and write access, and should be securely backed up or maintained in a CVS repository. Stealth (or Split) DNS servers can be used to minimize public access, and BIND can be run in a sandbox or a chroot jail (described in the section “BIND in a Chroot Jail” later in the chapter).

• Server–server (2): If an organization runs slave DNS servers, it needs to execute zone transfers. As noted earlier, it is possible to run multiple-master DNS servers rather than master–slave servers, and thus avoid any associated problems. If zone transfers are required, BIND offers multiple configuration parameters that can be used to minimize bthe inherent risks in the process. TSIG and Transaction KEY (TKEY) also offer secure methods for authenticating requesting sources and destinations. Both methods are described in detail in the section “Securing Zone Transfers” later in the chapter. The physical transfers can be secured using Secure Sockets Layer (SSL) or Transport Layer Security (TLS).

• Server–server (3): The BIND default is to deny Dynamic DNS (DDNS) from all sources. If an organization requires this feature, then BIND provides a number of configuration parameters to minimize the associated risk; these are described in detail later in the chapter. Network architecture design—that is, all systems involved are within a trusted perimeter—can further reduce the exposure. TSIG and SIG(0) can be used to secure the transactions from external sources.

• Server–client (4): The possibility of remote cache poisoning due to IP spoofing, data interception, and other hacks is likely quite low with modest web sites. However, if the site is high profile, high volume, open to competitive threat, or is a high revenue earner, then the costs and complexity of implementing a full-scale DNSSEC solution may be worthwhile. Significant effort is being invested by software developers, Registry Operators, the RIRs, and root-server operators, among many others, into DNSSEC. We are likely to see significant trickle-down effects within the near term in the public domain, as well as within controlled groups such as intranets and extranets. Indeed, Sweden will be the first country in the world to offer DNSSEC support for the .se domain starting in late 2005.

• Client–client (5): DNSSEC.bis standards define the concept of a security aware resolver—a currently mythical entity—that can elect to handle all security validation directly, with the local name server acting as a passive communications gateway.

REFERENSI

1. http://www.oreilly.com/catalog/dns3/chapter/ch02.html

2. http://www.net-security.org/dl/articles/Attacking_the_DNS_Protocol.pdf

3. http://www.insan.co.id/tutor.eng/dns.html

4. Attacking the DNS Protocol – Security Paper v2, ESA Certification,

Sainstitute.org

5. http://www.ilmukomputer.com/umum/diding-dns.php

6. http://www.sainstitute.org/articles/tools/Dns1.pl

7. http://www.sainstitute.org/articles/tools/Hds0.pl

8. http://www.sainstitute.org/articles/tools/Dnsflood.pl

9. http://www.sainstitute.org/articles/tools/DNS Hijacker

Senin, 26 Juli 2010

Pengertian VLAN
VLAN merupakan suatu model jaringan yang tidak terbatas pada lokasi fisik seperti LAN , hal ini mengakibatkan suatu network dapat dikonfigurasi secara virtual tanpa harus menuruti lokasi fisik peralatan. Sebuah Virtual LAN merupakan fungsi logik dari sebuah switch. Fungsi logik ini mampu membagi jaringan LAN ke dalam beberapa jaringan virtual. Jaringan virtual ini tersambung ke dalam perangkat fisik yang sama. Implementasi VLAN dalam jaringan memudahkan seorang administrator dalam membagi secara logik kelompok-kelompok komputer secara fungsional dan tidak dibatasi oleh lokasi. VLAN dikembangkan sebagai pilihan alternatif untuk mengurangi broadcast traffic.
Pada tradisional LAN, collision sering sekali terjadi. Collision adalah tabrakan antar paket-paket yang dikirimkan oleh 2 pengguna atau lebih pada saat yang bersamaan. Untuk mengatasi collision pada sebuah jaringan, maka digunakan sebuah bridge atau switch. Perangkat ini tidak akan mem-forward collision, tapi bisa melewatkan broadcast (ke setiap pengguna di jaringan) dan multicast. Dan sebuah router digunakan untuk mencegah broadcast dan multicast dari lalu lintas data jaringan.
Ada beberapa cara VLAN dalam menyederhanakan management network :
Penambahan, perpindahan, dan perubahan network dilakukan dengan mengkonfigurasi sebuah port ke VLAN yang sesuai.
Sekelompok user yang memerlukan keamanan yang tinggi dapat ditempatkan pada sebuah VLAN sehingga tidak user di luar VLAN tersebut yang dapat berkomunikasi dengan mereka.
Sebagai pengelompokan logikal user berdasarkan fungsi, VLAN dapat dianggap independen dari lokasi fisikal atau geografisnya.
VLAN dapat meningkatkan keamanan network
VLAN-VLAN meningkatkan jumlah broadcast domain dan pada saat yang sama memperkecil ukurannya sendiri.

BAGAIMANA VLAN BEKERJA
VLAN diklasifikasikan berdasarkan metode (tipe) yang digunakan untuk mengklasifikasikannya, baik menggunakan port, MAC addresses dsb. Semua informasi yang mengandung penandaan/pengalamatan suatu vlan (tagging) di simpan dalam suatu database (tabel), jika penandaannya berdasarkan port yang digunakan maka database harus mengindikasikan port-port yang digunakan oleh VLAN. Untuk mengaturnya maka biasanya digunakan switch/bridge yang manageable atau yang bisa di atur. Switch/bridge inilah yang bertanggung jawab menyimpan semua informasi dan konfigurasi suatu VLAN dan dipastikan semua switch/bridge memiliki informasi yang sama. Switch akan menentukan kemana data-data akan diteruskan dan sebagainya. atau dapat pula digunakan suatu software pengalamatan (bridging software) yang berfungsi mencatat/menandai suatu VLAN beserta workstation yang didalamnya.untuk menghubungkan antar VLAN dibutuhkan router.

TIPE TIPE VLAN
Keanggotaan dalam suatu VLAN dapat di klasifikasikan berdasarkan port yang di gunakan , MAC address, tipe protokol.
1. Berdasarkan Port
Keanggotaan pada suatu VLAN dapat di dasarkan pada port yang di gunakan oleh VLAN tersebut. Sebagai contoh, pada bridge/switch dengan 4 port, port 1, 2, dan 4 merupakan VLAN 1 sedang port 3 dimiliki oleh VLAN 2, lihat tabel:
Tabel port dan VLAN
Port 1 2 3 4
VLAN 2 2 1 2
Kelemahannya adalah user tidak bisa untuk berpindah pindah, apabila harus
berpindah maka Network administrator harus mengkonfigurasikan ulang.
2. Berdasarkan MAC Address
Keanggotaan suatu VLAN didasarkan pada MAC address dari setiap workstation
/komputer yang dimiliki oleh user. Switch mendeteksi/mencatat semua MAC
address yang dimiliki oleh setiap Virtual LAN. MAC address merupakan suatu
bagian yang dimiliki oleh NIC (Network Interface Card) di setiap workstation.
Kelebihannya apabila user berpindah pindah maka dia akan tetap terkonfigurasi
sebagai anggota dari VLAN tersebut.Sedangkan kekurangannya bahwa setiap mesin
harus di konfigurasikan secara manual , dan untuk jaringan yang memiliki
ratusan workstation maka tipe ini kurang efissien untuk dilakukan.
Tabel MAC address dan VLAN
MAC address 132516617738 272389579355 536666337777 24444125556
VLAN 1 2 2 1

3. Berdasarkan tipe protokol yang digunakan
Keanggotaan VLAN juga bisa berdasarkan protocol yang digunakan, lihat tabel
Tabel Protokol dan VLAN
Protokol IP IPX
VLAN 1 2
4. Berdasarkan Alamat Subnet IP
Subnet IP address pada suatu jaringan juga dapat digunakan untuk mengklasifikasi
suatu VLAN

Tabel IP Subnet dan VLAN
IP subnet 22.3.24 46.20.45
VLAN 1 2
Konfigurasi ini tidak berhubungan dengan routing pada jaringan dan juga tidak
mempermasalahkan funggsi router.IP address digunakan untuk memetakan keanggotaan
VLAN.Keuntungannya seorang user tidak perlu mengkonfigurasikan ulang alamatnya
di jaringan apabila berpindah tempat, hanya saja karena bekerja di layer yang lebih
tinggi maka akan sedikit lebih lambat untuk meneruskan paket di banding
menggunakan MAC addresses.
5. Berdasarkan aplikasi atau kombinasi lain
Sangat dimungkinkan untuk menentukan suatu VLAN berdasarkan aplikasi yang
dijalankan, atau kombinasi dari semua tipe di atas untuk diterapkan pada suatu
jaringan. Misalkan: aplikasi FTP (file transfer protocol) hanya bias digunakan
oleh VLAN 1 dan Telnet hanya bisa digunakan pada VLAN 2.

Mengapa Menggunakan VLAN?
Kontrol Terhadap Broadcast
Broadcast terjadi di semua protokol, tetapi seberapa sering terjadinya tergantung pada tiga hal berikut :
Jenis protokol
Aplikasi yang berkerja di internetwork
Bagaimana layanan-layanan network digunakan
Aplikasi-aplikasi pada dewasa ini semakin banyak membutuhkan bandwith, terutama aplikasi-aplikasi multimedia yang menggunakan broadcast dan multicast secara ekstensif. Memastikan agar network disegmentasi atau dipisahkan dengan baik, untuk mengisolasi masalah di satu segmen dan menghindari penyebarannya ke network lain atau internetwork adalah sebuah keharusan. Cara melakukan ini adalah dengan strategi switching dan routing yang baik, yaitu dengan network switch murni dan lingkungan VLAN. Semua peralatan di sebuah VLAN adalah anggota dari broadcast domain yang sama dan menerima semua broadcast. Secara default, broadcast tidak akan dilewatkan pada pada port dari sebuah switch yang bukan merupakan anggota VLAN yang sama.
Keamanan
Administrator akan dapat memiliki kontrol ternhadap setiap port dan user dengan cara membuat VLAN dan menciptakan banyak kelompok broadcast, dengan demikian user tidak akan bisa lagi dengan leluasa untuk menghubungkan work station mereka ke sembarang port pada swich dan memperoleh akses ke sumber daya network. Vlan juga dapat dibuat sesuai dengan kebutuhan sumber daya nework dari user, switchswitch dapat dikonfigurasi untuk memberikan informasi ke sebuah stasiun managemen network jika ada akses-akses yang tidak diizinkan ke sumber daya network.
Fleksibilitas dan Skalabilitas
Apakah perbedaan router dengan switch? Secara default switch membagi coallision domain sedangkan router membagi broadcast domain.

Referensi
Lammle,T. CCNA Cicso Certified Networking
Associate
Materi CNA TE-UGM
(sumber:http://www.tulisanku.com/pengertian-vlan/)
http://bimshop.wordpress.com/2007/02/28/tentang-vlan/
http://myDeden.Kom.htm